Kamis, 06 November 2014

Saat Malaikat Menjauh



Ketika mentafsirkan ayat 18 surat Qaf, Pengarang kitab Hasyiah Sawi menjelaskan, “Malaikat selalu tidak berpisah dengan manusia kecuali pada 3 tempat; pada WC, ketika berjimak dan saat berjanabah. Bila manusia melakukan keburukan ataupun kebaikan saat tersebut, malaikat mengetahuinya dengan mencium bau lalu menulisnya.”

Hasyiah Shawi A’la Jalailain juz 4 halaman 153

Kamis, 03 Juli 2014

Karamah dan cerita yang berlebihan

Sebagai pengikut ahlus sunnah wal jamaah, saya tidak pernah mengingkari adanya karamah, namun yang berkembang di masyarakat cerita karamah itu terlalu berlebihan, itulah yang tidak saya setuju.
Ada yang bercerita tentang karamah seorang ulama, "geukoh bak leubu meukeuba matee kafee."
Seandainya dengan "geukoh bak leubu" dapat membuat kafir tewas, lantas kenapa kafir Belanda bercokol lama di Aceh? Kenapa tidak semua "bak leubu geukoh"? agar semua kafir Belanda tewas dan tidak menyengsarakan orang Aceh.

Suul Khatimah

Seusai shalat sering kita berdoa seperti ini;
اللهم اختم آجالنا بحسن الخاتمة ولا تختم آجالنا بسوء الخاتمة
"Ya Allah, tutuplah ajal kami dengan penutup yang baik, jangan Engkau tutup ajal kami dengan tutupan yang buruk."

Sejenak terbersit dalam hati kita apa makna suul khatimah, penyebab apakah seseorang pada ajalnya suul khatimah, dan bagaimana cara menghindari suul khatimah. Baiklah pada kesempatan kali ini, kita sedikit akan membahas masalah tersebut, kita mulai dengan makna suul khatimah.

Suul khatimah ada dua macam, salah satu lebih berbahaya dari yang lain;
Pertama, Suul khatimah yang paling berbahaya yaitu ketika menghadapi sakaratul maut timbul di hatinya keraguan dan pengingkaran atas iman kepada Allah. Ketika ruhnya dicabut, ia dalam keadaan mengingkari dan meragukan keimanannya sehingga menyebabkan adanya hijab antara ia dan Allah. Dengan begitu, rahmat Allah akan jauh darinya dan ia kekal di neraka.

Kedua, lebih ringan dari yang pertama, yaitu ketika menghadapi sakaratul maut, hatinya dipenuhi kecintaan kepada dunia dan syahwat, sehingga ketika ruhnya dicabut, ia dalam keadaan yang sangat tersiksa karena meninggalkan dunia yang sang ia cintai.

Lalu apa penyebabnya seseorang meninggal dalam keadaan suul khatimah? Sebab suul khatimah sangatlah banyak, namun dapat dijelaskan secara global.
Penyebab suul khatimah yang pertama yaitu di hati seseorang keraguan dan pengingkaran atas kepala Allah ketika sakaratul maut, dapat disimpulkan menjadi dua penyebab berikut;
Pertama, mengira telah mencapai sifat wara', zuhud dan ibadah yang ia lakukan telah sempurna.

Kedua, lemahnya iman dan cinta kepada dunia. Selama iman seseorang lemah dan kecintaan pada dunia sangat besar, maka sulit baginya untuk mencapai kecintaan kepada Allah. Apabila datang kepadanya sakaratul maut, maka ia semakin tidak mencintai Allah. Ia tidak menerima apabila ditakdirkan meninggal dunia, dia tidak rela berpisah dengan dunia yang sang dicintainya, ia menyalahi Allah yang telah menakdirkan kematian kepadanya, dan akhirnya ia meninggal dunia dalam keadaan membenci Allah.

Penyebab suul khatimah kedua (hatinya dikuasai kepada dunia) yang lebih ringan dari yang pertama dan tidak menyebabkan kekal di neraka. Penyebabnya dapat disimpulkan menjadi dua.
Pertama, banyaknya kemaksiatan yang dilakukan meskipun imannya kuat.

Kedua, imannya lemah walaupun tidak banyak melakukan kemaksiatan.

Setelah dijelaskan makna suul khatimah, apa yang harus dilakukan agar terhindar darinya? Hendaklah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi sakaratul maut, keluarkan kecintaan kepada dunia dari hati, jagalah diri dari perbuatan maksiat, jauhkan pandangan dari hal-hal yang berbau kemaksiatan atau berinteraksi dengan pelaku kemaksiatan karena hal itu akan memberikan pengaruh kepada hati.
Jangan mengatakan, "Aku akan mempersiapkan diri (bertaubat) apabila sudah dekat dengan kematian." Ketahuilah bahwa setiap embusan nafas dapat menjadi embusan terakhir. Maka waspadakanlah hati setiap detik karena mungkin pada detik itu ruh kita akan melayang.
Janganlah sedetik pun kita lalai mengingat Allah. Apabila kita lalai sedetik pun, maka bahaya yang sangat besar akan menimpa. Setiap orang akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Semua orang-orang yang berilmu akan binasa kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Semua orang yang mengamalkan ilmunya akan binasa kecuali orang yang ikhlas dalam perbuatannya.

Tingkatan puasa

Puasa memiliki 3 tingkatan, yaitu puasa orang awam, puasa orang khusus, dan puasa orang yang paling khusus.
Puasa orang awam adalah menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwatnya.
Puasa orang khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh dari berbagai dosa.
Puasanya orang yang paling khusus adalah puasa hati dari berbagai ambisi yang hina dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan hati dari segala sesuatu selain Allah secara total. Puasa ini menjadi batal karena memikirkan segala sesuatu selain Allah, hari akhir, dan memikirkan dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama karena hal ini merupakan bekal untuk akhirat dan tidak disebut lagi dunia. Tingkatan ini merupakan tingkatan para Nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Puasa ini adalah menghadap sepenuh tekad kepada Allah swt dan berpaling dari selain Nya.
Adapun puasa orang khusus, yaitu puasa orang-orang yang saleh adalah menahan anggota badan dari berbagai dosa, puasa ini menjadi sempurna dengan enam perkara.

Pertama, menundukkan pandangan dan menahan pandangan kepada setiap hal tercela, juga setiap hal yang dapat mengganggu hati serta melalaikan dari mengingat Allah. Rasulullah bersabda, "Pandangan adalah anak panah beracun di antara anak panah iblis, semoga Allah melaknatinya. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka ia telah diberikan oleh Allah keimanan yang ia rasakan manisnya di dalam hatinya." (HR Hakim)

Kedua, menjaga lisan untuk tidak membicarakan hal-hal yang tidak karuan, dusta, ghibah, namimah (adu domba), kekejian, perkataan kasar, pertengkaran dan perdebatan dan menyibukkannya dengan zikir kepada Allah dan membaca Al-Quran. Inilah puasa lisan.
Sufyan berkata, "Ghibah merusak puasa."
Diriwayatkan oleh Basyar bin al-Harits dari Sufyan. Laits meriwayatkan dari Mujahid, "Ada dua hal yang dapat merusak puasa, yaitu ghibah dan dusta."

Ketiga, menahan pendengaran dari menyimak segala yang dibenci karena segala sesuatu yang haram diucapkan, haram juga disimak.

Keempat, menahan anggota tubuh yang lain dari berbagai perbuatan dosa. Menahan kaki dan tangan dari berbagai perasaan perbuatan yang dibenci dan menahan perut dari memakan barang syubhat pada saat berbuka puasa. Tidak ada artinya berpuasa, yaitu menahan dari makanan yang halal kemudian berbuka puasa dengan makanan haram. Orang yang berpuasa seperti ini bagaikan orang yang membangun sebuah istana dan menghancurkan satu kota.
Makanan yang halal akan berbahaya karena dikonsumsi secara berlebihan. Tujuan puasa adalah menguranginya.
Rasulullah bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga."
Dikatakan dialah orang yang berbuka dengan barang haram, ada yang yang mengatakan bahwa dialah yang menahan dari makanan yang halal kemudian berbuka dengan "memakan daging manusia" (dengan ghibah) yang jelas haram. Dikatakan juga bahwa dialah yang tidak menahan anggota tubuhnya dari berbagai dosa.

Kelima, tidak memakan yang halal secara berlebihan pada saat berbuka puasa hingga perutnya penuh. Tidak tempat yang paling dibenci oleh Allah swt selain perut yang penuh dengan makanan halal. Bagaimana puasa itu bermanfaat untuk menundukkan musuh Allah dan mengalahkan syahwat apabila orang yang berpuasa, pada saat berbuka melahap berbagai macam makanan untuk mengganti berbagai makanan yang tidak boleh dimakannya sepanjang siang? Bahkan sudah menjadi tradisi, berbagai makanan disimpan untuk bulan Ramadhan hingga banyak makanan yang dapat dimakan pada bulan Ramadhan yang tidak dimakan pada bulan-bulan yang lainnya. Telah diketahui bahwa tujuan puasa adalah pengosongan dan menundukkan hawa nafsu demi memperkuat jiwa untuk mencapai takwa. Apabila perut yang kosong sejak pagi menjelang malam kemudian pada saat berbuka diberikan macam macam-macam makanan yang lezat hingga kenyang, maka kekuatannya menjadi berlipat ganda dan berontaklah syahwat-syahwat lain yang semestinya diam dan tenang jika dibiarkannya apa adanya.
Ruh dan rahasia puasa adalah memperlemah berbagai kekuatan yang merupakan sarana setan untuk kembali kepada kejahatan. Akan tetapi hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan pengurangan makanan, yaitu dengan cara memakan makanan yang biasa ia makan setiap malam ketika ia tidak berpuasa. Bahkan salah satu adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur pada waktu siang hingga ia merasakan pedihnya lapar dan haus serta merasa tak ada kekuatan, maka saat itulah hatinya menjadi jernih.

Keenam, hendaknya setelah berbuka, hatinya tertambat dan terguncang di antara cemas dan harap karena ia tidak mengetahui apakah puasanya diterima atau tidak. Juga apakah ia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah atau ditolak hingga ia termasuk orang-orang yang dimurkai. Hendaklah hatinya selalu merasa seperti itu di akhir setiap ibadah yang baru saja selesai dilaksanakan.

Puasa koq loyo?

Puasa koq loyo? Coba kita menengok sejarah ke belakang. Pada 17 Ramadhan tahun kedua hijrah, umat islam berperang melawan kaum kafir. Dalam perang itu kaum kafir berkekuatan 1000 tentara. Sedangkan umat islam hanya berkisar sekitar 300 ratusan. Tapi apakah puasa membuat para sahabat lemah, loyo dan tidak bertenaga. Tidak! Bahkan dengan bantuan dari Allah umat islam memperoleh kemenangan.
Dan bukankah Fath Makkah (Pembebasan Makkah) juga terjadi pada bulan Ramadhan. Dengan jumlah yang sangat banyak mereka berangkat dari Madinah menuju ke Makkah.
Bila menyelisik ke belakang, ternyata Ramadhan tidaklah membuat mereka para sahabat menjadi lemah dan tidak berdaya.
Lantas apakah tidak beribadahnya kita pada siang hari beralasan lemah?

Mentadabburi Al-Quran

Bulan ramadhan bulan mendulang banyak pahala. Kita dituntut untuk memperbanyak amalan dibulan ini. Oleh karena itu jauh-jauh hari sebelum ramadhan kita telah memasang target-target yang akan kita kejar pada bulan ini. Mungkin kita sudah menargetkan khatam Al-Quran satu, dua atau lebih dari itu dalam ramadhan ini.
Namun ada hal yang tidak boleh kita tinggalkan dalam membaca Al-Quran yaitu mentadabburkannya (merenungkan kandungan maknanya)
Berkatalah Sayyidina Ali, "Tidak ada kebaikan pada bacaan Al-Quran yang tidak ada tadabbur padanya."
Karena Al-Quran diturunkan untuk ditadabbur, dengan mentadabbur kita memahami maksudnya. Dan sampailah kita kepada mengilmukan Al-Quran dan beramal dengannya. Inilah maksud diturunkan Al-Quran.
Berkata sebagian ulama salaf, "Sungguh membaca surat zulzilat dan alqariah yang aku tadabbur dan aku pahami terlebih aku cintai ketimbang membaca seluruh Al-Quran (tanpa tadabbur).
Bukankah Allah dalam Al-Quran mencela orang-orang yang tidak mentadabburkan Al-Quran;
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Quran ataukah pada hati mereka terdapat gembok-gembok penghalangnya?” ( QS. Muhammad [47]: 24 )

Wallahu A'lam

Minggu, 29 Juni 2014

Fadhilah Shalat Pada Awal Waktu

Kenapa banyak orang yang suka menunda-nunda shalat, dan melaksanakannya pada akhir waktu? Karena ia tidak tau keutamaan shalat pada awal waktunya.
Mari kita simak sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmuzi

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻗُﺘَﻴْﺒَﺔُ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻣَﺮْﻭَﺍﻥُ ﺑْﻦُ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ﺍﻟْﻔَﺰَﺍﺭِﻱُّ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻳَﻌْﻔُﻮﺭٍ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴﺪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﻴْﺰَﺍﺭِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﺍﻟﺸَّﻴْﺒَﺎﻧِﻲِّ ﺃَﻥَّ ﺭَﺟُﻠًﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺎﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﻋَﻨْﻪُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻮَﺍﻗِﻴﺘِﻬَﺎ ﻗُﻠْﺖُ ﻭَﻣَﺎﺫَﺍ ﻳَﺎ
ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺑِﺮُّ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﻳْﻦِ ﻗُﻠْﺖُ ﻭَﻣَﺎﺫَﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻭَﺍﻟْﺠِﻬَﺎﺩُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﻋِﻴﺴَﻰ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺣَﺪِﻳﺚٌ ﺣَﺴَﻦٌ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﻭَﻗَﺪْ ﺭَﻭَﻯ ﺍﻟْﻤَﺴْﻌُﻮﺩِﻱُّ ﻭَﺷُﻌْﺒَﺔُ ﻭَﺳُﻠَﻴْﻤَﺎﻥُ ﻫُﻮَ ﺃَﺑُﻮ ﺇِﺳْﺤَﻖَ
ﺍﻟﺸَّﻴْﺒَﺎﻧِﻲُّ ﻭَﻏَﻴْﺮُ ﻭَﺍﺣِﺪٍ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻮَﻟِﻴﺪِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﻴْﺰَﺍﺭِ َ

"Seorang laki-laki berkata bagi Ibnu Mas'ud ra, "Amalan apa yang paling afdal?" Berkata Ibnu Mas'ud, "Aku tanya Rasulullah beliau berkata, "Shalat sesuai dengan waktunya. Aku bertanya lagi," Wahai Rasulullah, lalu apa lagi?." Beliau menjawab: "Berbuat baik kepada kedua orang tua." Aku bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, lalu apa lagi? beliau menjawab: Jihad di jalan Allah.

Setelah menyimak hadis di atas masihkah kita ingin menunda-nunda shalat yang mana shalat pada waktunya amalan yang paling afdal?